14 April 2018

Kitab Suci Memang Fiksi

Saya tidak tahu, apakah kitab suci itu fiksi atau bukan, karena saya tidak pernah membuktikanya secara langsung. Namun menurut iman, kitab suci yang saya yakini bukanlah fiksi. Itu juga yang mungkin tejadi pada orang yang meyakini kitab sucinya masing-masing.

Kitab suci bagi saya adalah buku moral, bukan buku sejarah atau buku matematika. Semua kisah yang ada, ditulis agar manusia bisa mengambil hikmah. Jadi berdasar dari keyakinan, juga tujuan ditulisnya sebuah kitab suci diatas, maka secara filosofis bisa saja kitab suci dikatakan fiksi.

Kasarnya begini,
Suci atau tidaknya sesuatu, itu hanya masalah nilai. Baik itu tempat suci, orang suci ataupun kitab suci. Lia Eden itu orang suci bagi pemujanya, namun bagi saya dia hanya manusia biasa. Bagi umat Kristen Alkitab atau Bible itu kitab suci, tapi belum tentu menurut saya. Begitu juga dengan Al Qur'an, bagi saya jelas sebagai kitab suci, namun belum tentu menurut umat lain.

Intinya sucu atau tidaknya sesuatu itu relatif, tergantung siapa yang menilai. Apalagi kitab suci, modalnya hanyalah iman. Sedang yang namanya iman adalah meyakini kebenarannya tanpa perlu pembuktian.

Lalu apakah fiksi itu buruk.?
Tidak juga, seperti yang sudah saya tulis di atas, kisah dalam kitab suci ditulis agar manusia bisa mengambil hikmah.
Pujangga jawa menciptakan tokoh semar pada kisah mahabarata dan ramayana, sebagai tokoh lapisan bawah yang adiluhung agar manusia bisa bersikap seperti semar.

Beda dengan kisah fiktif, karena bahan dasarnya adalah kebohongan atau hoax. Contohnya adalah saat saya menciptakan sosok jurig untuk menakut-nakuti anak anak, Efeknya tidak akan pernah sama.

Sebab Saya Cinta Mati Sama Istri

Secara fisik istri saya jelas cantik, apalagi kalau di foto pake aplikasi kamera mempercantik wajah. Namun yang membuat saya cinta mati padanya, yaitu dia tidak pernah menyemangati saya untuk lebih giat bekerja seperti istri-istri lainya.

Dia tahu dan maklum akan kondisi saya. Namun sebagai suami yang baik, saya juga tidak mau memanfaatkan kebaikan istri dengan ongkang-ongkang kaki. Saya tetap bekerja untuk menafkahinya, walaupun dia sendiri bekerja dan berpenghasilan.

Istri Admin Taohids Online

Hanya frekwensinya saja mungkin yang berbeda dengan suami-suami lain. Dimana suami-suami lain dipecut oleh istrinya secara halus untuk lebih giat bekerja dengan cara memberi semangat.
Sementara yang dikatakan istri saya;
Kalau lelah, capek, libur..
Kalau sakit, kurang enak badan, istirahat.
Persetan dengan impian dunia.

Bagaimana, mantap bukan.?
Haha..

Ingin Merubah Indonesia Menjadi Negara Islam,? Tidak Mungkin

Secara De Facto, negeri ini sebetulnya sudah negeri Islam. Contohnya seperti:
Presiden tidak boleh wanita apalagi kafir, kalaupun Islam tapi tidak pro Islam, jangan dipilih. Bagaimanapun caranya negeri ini harus bernuansa agamis. Begitu menurut kaum mayoritas agamais.

Hanya hukumnya saja mungkin yang belum.
Maling, potong tangan.
Membunuh, potong leher..
Zina, timpukin pake batu..
Deelel..

Dan itu memang tidak akan terjadi, karena bangsat bangsat dinegeri ini terlalu pengecut untuk mengaplikasikanya.

Kalau sudah tersandung kasus karena khilaf atau tak kuasa menahan nafsu, baru merengek-rengek minta hukuman yang seringan-ringanya berdasar pancasila dan UUD 45, bila perlu kabur, pura pura sakit, atau pura-pura gila.

31 March 2018

Sebab Hukum Di Negeri Ini Tidak Pernah Mendidik

Aturan dibuat memang untuk di taati, dan tidak masalah mentaatinya jika hidup diantara orang yang taat aturan. Namun akan sangat bermasalah jika mengikuti aturan diantara orang yang tidak taat aturan.

Karena setidaknya di negeri ini, aturan tidak berdasar azas keadilan. Pengadilan di negeri ini tidak berdasar benar dan salah, tapi seberapa besar uang yang anda punya dan pengaruh yang anda miliki.

Ini bukan Hadist sahih, apalagi hadist palsu, tapi ini fakta berdasar apa yang saya alami.

20 March 2018

Cara Ampuh Mengatasi Kenakalan Remaja

Yang namanya anak anak itu polos, dia tidak tahu apa apa tentang hidup, belum matang secara pemikiran maupun mental. Jadi biasanya yang mereka lakukan, hanya ikut ikutan dan mencontoh. Siapa yang mereka contoh.? Siapapun yang ada disekitar mereka, dan yang dilihat mereka, terutama dari orang orang dewasa dalam mencari jati diri.

Mereka suka tawuran, dia mencontoh orang dewasa. Mereka berkelahi, itu mencontoh orang dewasa
Mereka berbuat asusila, mereka mencontoh orang dewasa. Bahkan apa yang mereka lakukan memang diajarkan oleh orang dewasa.

Solusi: Menghukum anak anak bukan solusi.
Sebagai orang dewasa, berilah contoh yang baik bagi anak anak disekitar anda, yang notabene adalah generasi penerus bangsa.
Kecuali kalau kedewasaan anda memang hanya dari sisi usia saja, tidak dari pemikiran juga mental, maka pantas yang anda lakukanpun mirip dengan kelakuan anak-anak, ngambek, tawuran, goblok, dan sebagainya.


Taohids