18 June 2013

Mengenal Dzat '' Laitsa Kamitslihi Syaiun ''

Taopik Hidayat_18 June 2013

Orang yang mungkin belum mengerti tentang Dzat Allah, kadang disamakan layaknya zat, ada zat cair, zat padat, dll. padahal bukan begitu pemahamannya. Namun di sini saya tidak akan mengangkat tentang Dzat-Nya,, tapi bentuk dari Dzat-nya tersebut, yaitu "Laitsa kamislihi saiun".

Laitsa kamislihi saiun itu artinya tidak sama dengan mahluknya. tidak ada persamaan untuk-Nya di seluruh alam ini, satu perkara pun.
Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai- Nya ”. (QS. as-Syura: 11)

Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu”. (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi).

Barang siapa beranggapan (berkeyakinan)  bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)
(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h.72).


Dalil-dalil di atas,itu di kutip dari Syariat Islam,yang terdapat dalam Al qur'an dan Hadist. Sekarang mari kita lihat menurut kepercayaan lain,tentang bentuk Dzat Allah ini..

* Menurut Taoisme dikatakan,
agar dapat menyatu (sampai) dengan ketunggalan besar ( Tuhan Yang Maha Besar), manusia bijaksana harus mengatasi serta melupakan pemilahan diantara barang sesuatu dengan barang lainnya. Jalan untuk itu harus mengesampingkan pengetahuan (Baca: meninggalkan aktifitas fisik) dan merupakan metode kaum tao untuk bersikap bijaksana.
Akan tetapi kaum tao untuk memuja tao menggunakan perantara lambang-lambang (materi) sebagai batasan pikirannya.

* Konsep ketuhanan kaum kristiani yang dikenal trinitas,
Pada dasarnya sama sebagai agama samawi, seperti yang dikatakan dalam Alkitab :
' Dengarlah wahai Israil sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu esa adanya (ulangan pasal 6 ayat 4).
Pada ayat lain pasal 4 ayat 35 disebutkan :
' Maka kepadamulah ia ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan Yang Esa, tidalah yang lain lagi.
Kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22:
Maka sebab itu Besarlah engkau, Ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami.
Di ayat ini dijelaskan bahwa Jesus sendiri mengharapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah;
'' Laisa kamitslihi syaiun ''.

* Menurut Kitab Bhagawat Gita,
Bahwa orang yang tidak memurnikan obyek pikirannya kepada Zat Mutlak, maka akan mati tersesat dan dia menjadi karma reinkarnasi. Orang yang menyembah dewa-akan dilahirkan dari para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah roh halus akan dilahirkan di tengah mahluk seperti itu, dan orang yang menyembah Ku akan hidup bersama-Ku.
(Bhagawat Gita, Sloka 9.25)

Di dalam ajaran Budha disebutkan, konsep personalitas ego adalah sesuatu yang digambarkan oleh pikiran yang diskriminatif yang harus ditinggalkan.

Di dalam agama besar yang saya sebutkan di atas diakui, bahwa Tuhan itu tidak sebanding dengan sesuatu atau tidak bisa dipersepsikan seperti apa dan bagaimana. Adapun sesembahan mereka berupa berhala dengan alasan sebagai media pengantar kepada Tuhan Yang Maha Esa atau biasa disebut pemusatan pikiran (rabitah) atau washilah Sri kresna, Budha Gautama, Kristus, di anggap merupakan perwujudan Tuhan itu sendiri sehingga kaum yang kesadarannya sampai pada batasan ini rohaninya akan terhalang kepada bentuk Tuhan Yang Maha Mutlak (yang tidak dijangkau oleh pikiran). Akibatnya objek pikiran kita berhenti kepada alam yang masih bisa kita bayangkan (Islam menyebutnya Syirik).

Kalaulah akhirnya sang meditator mendapatkan pengalaman rohani atau pencerahan, itu akibat jiwa
manusia yang bersifat universal, misalnya muncul kedamaian, ketenangan, cinta, rindu dan lain-lain,
yang merupakan potensi yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada seluruh manusia.

Islam hadir untuk meluruskan persepsi tentang Tuhan (tauhid) karena apabila tuhan digambarkan seperti apa yang difikirkan, maka jiwanya terhenti pada benda itu dan tidak masuk kepada keadaan
transenden yang sebenarnya atau hakikatnya.

Disebutkan di alquran :
"Ingatlah hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik), dan orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : Kami tidak menyembah mereka (berhala) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat- dekatnya." (Q.S. Az Zumar, 39 ayat :3).

Wallahualam bishowab.

Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.