17 May 2014

Tuhan Saya Adalah Hantu

Momos Fobetor_17 May 2014

Pada mulanya Hantu dengan Tuhan hanya satu wujud dua nama. Tapi gara-gara pelajaran bahasa Indonesia, kedua kata ini diceraikan begitu saja secara sewenang-wenang.

Dalam kajian Semiotika, bahasa hanya sebuah penanda dari apa yang ingin ditandai. Ketika saya lahir, orang tua saya bebas memilih nama untuk menunjuk diri saya. Apapun nama yang dipilih, yang dimaksud tetap diri saya. Nama itu hanya sebagai penanda. Simbol. Lambang. Begitu saya diberi nama Erianto Anas, maka nama itu adalah untuk membedakan saya dari orang lain. Untuk menunjuk kedirian saya. Maka selain nama itu akan dianggap bukan saya. Itu artinya, tanpa disadari nama saya sekaligus juga berubah fungsi dari penanda menjadi yang ditandai. Dari simbol menjadi substansi. Dari bayang-bayang menjadi wujud asli. Seoalah-olah nama itu adalah diri saya sendiri. Padahal kenyataannya tidak.

Sebagai contoh apa yang terjadi di sini?

Saya dan anda memberontak. Selain mal praktek penyimpangan fungsi bahasa terjadi, di sisi lain kita sama-sama juga mengoyak konvensi bahasa yang tidak disadari secara bersama-sama seperti itu. Sebagian anda dan termasuk saya, juga menyebut saya dengan Bi-ru, NB, Nabi Baru Bangsat, si Penghina Islam, si Penjual Agama, si Penebar ajaran sesat, Si ayat-ayat setan, dan seterusnya. Semua nama ini juga merujuk pada diri saya.

Itu artinya kita sama-sama membentuk nama-nama baru untuk saya. simbol-simbol baru. Penanda-penanda baru. Tapi yang dimaksud tetaplah objek yang sama. Sosok yang sama. Orang yang sama.Yaitu saya. Inilah yang diistilahkan bahwa bahasa, atau kata, bersifat artbitrer. Bersifat sewenang-wenang. Seandainya nama Erianto Anas diberikan untuk kucing, untuk sebuah daerah, untuk nama jalan, juga bisa. Seandainya nama untuk merujuk diri saya digunakan Anas Erianto, Munir, Abas, Kucing, Setan, Iblis, juga bisa. Toh yang dimaksud tetaplah diri saya. Apapun namanya tidak menjadi masalah.

Itulah yang dikatakan bahasa atau nama-nama bersifat sewenang-wenang (arbitrer).

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, nama itu berselingkuh dengan yang dinamai. Antara nama saya dengan diri saya menjadi identik. Seolah-olah sudah menyatu. Dalam satu wujud yang tak terpisahkan. Dan proses itu terjadi melalui konvensi. Melalui kesepakatan sosial. Baik secara resmi maupun tidak. Baik secara tertulis maupun secara tersirat.

Inilah yang disebut oleh para Antropolog bahwa manusia adalah subjek pembentuk simbol-simbol (nama-nama). Dan ia bebas memilih simbol apa saja yang mereka inginkan.

Tapi di sisi lain, manusia sekaligus juga rentan terjebak ulah kreativitasnya sendiri dalam menciptakan simbol-simbol. Fungsi simbol itu bisa melampaui batasnya. Dari penanda menjadi petanda. Dari perujuk menjadi yang dirujuk itu sendiri. Dari nama menjadi yang dinamai itu sendiri. Dengan kata lain, terjadilah pemberhalaan terhadap nama. Pemberhalaan terhadap simbol. Manusia berhenti pada nama. Berhenti pada symbol. Padahal, pada mulanya nama atau simbol itu hanya sebagai jembatan untuk memahami apa yang hendak ditujunya. Untuk memahami substansi dari objek yang ditujunya.

Nah, kemana landasan berpikir ini akan kita bawa?
Bisa kemana saja. Dalam konteks tulisan ini, bisa dicontohkan pada Tuhan. Kata Tuhan adalah sebuah nama, sebuah simbol yang merujuk pada Sang Ada. Pada Being. Pada Causa Prima. Pada Misteri Jagat Raya. Pada sesuatu dibalik segala yang ada. Pada Sang Pencipta dan seterusnya.

Manusia, adalah makhluk yang berbahasa. Apapun bahasanya. Baik verbal, oral, tulisan, isyarat, gerak-gerik, suara hati. Semua itu pada hakikatnya adalah bahasa dalam arti luas. Sebuah media komunikasi manusia dengan diri sendiri dan alam. Sebuah media kontak relasional.

Manusia adalah mahkluk yang menciptakan bahasa. Meminjam istilah Heidegger, bahasa adalah rumah manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa. Tapi di sisi lain sekaligus manusia juga rawan tergelincir oleh bahasa yang mereka ciptakan sendiri. Yaitu memberhalakan bahasa itu sendiri. Memberhalakan simbol, memberhalakan lambang, memberhalakan kata-kata, dan memberhalakan nama-nama itu sendiri.

Lebih kurang itulah bahasa dalam kajian Semiotika sejauh yang saya pahami.

Apa itu Semiotika?
Maaf, bagi anda yang lapar definisi silahkan cari sendiri.

Lalu kenapa Tuhan sama dengan Hantu?
Anda bebas berpikir dengan menggunakan prinsip Semiotika ini.
Jangan lagi terjebak oleh bahasa. Oleh nama, oleh istilah dan sejenisnya.

Secara metaforis, hantu adalah sesuatu yang selalu mengusik kesadaran manusia. Sesuatu yang tidak jelas. Tidak berwujud. Tapi dalam imajinasi manusia ia Ada. Dan mesin majinasi manusia secara refleks akan bekerja membentuk lambang-lambang, simbol-simbol untuk menggambarkan Sang Hantu.

Nah bagaimana dengan Tuhan?
Apakah manusia pernah menemukan sosok Tuhan.
Apakah manusia pernah menemukan Wujud Tuhan?

Secara metaforis, Tuhan juga sesuatu yang selalu mengusik kesadaran manusia sepanjang sejarah peradaban manusia. Tuhan, diasumsikan sebagai sesuatu yang tak pernah terlihat. Sesuatu yang tak pernah diindra. Tapi dalam imajinasi manusia, ia Ada. Dan mesin majinasi manusia secara refleks juga bekerja membentuk lambang-lambang, smbol-simbol dan nama-nama untuk merujuk dan menggambarkan Sang Ada. Walau apapun nama yang digunakan manusia untuk melabeli Sang Ada tersebut.

Hati-hati. Jangan merujuk pada dogma kepercayaan.
Ini Filsafat bahasa. Kajian Semiotika.

Salam Tuhan-Hantu!

Pen : Erianto Anas

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :