01 June 2014

Sebentar Lagi Agama Akan Runtuh

Momos Fobetor_01 June 2014

Sehebat, setinggi, sekencang, bahkan segarang apapun dakwah dan slogan agama, ia tak kan pernah menjadi raja kehidupan. Tak kan pernah mencelakakan manusia, tak kan pernah mematikan manusia yang ingkar, tak kan pernah memuliakan manusia yang haus kemuliaan. Karena raja kehidupan adalah hukum alam, Mekanisme hukum fisika, kimia, psikologi dan segala turunan dari mekanisme hukum alam.

Banyak orang miskin beriman mengutuk orang kaya, tapi orang kaya tetap kaya. Banyak orang stress yang beriman mengutuk orang tertawa yang tak mau tau dengan agama. Tapi yang stres tetap saja stres dan yang enjoy tetap saja enjoy. Banyak orang bodoh beriman mengutuk orang pintar yang Atheis, tapi orang beriman yang bodoh tetap saja bodoh dan yang Atheis tetap saja melaju dengan prestasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya. Banyak orang tertindas beriman berdoa agar para buldoser politik hidup celaka. Tapi para koruptor bisa berkelit dan selamat dengan caranya sendiri. Banyak orang mulia mengutuk para penggila porno dan maksiat agar hidup celaka dan dikutuk Tuhan. Tapi kenyataannya do’a orang mulia tidak menjadi kenyataan. Porno dan maksiat semakin meluas dan melaju kencang sambil bersiul menikmati sorga seksualitas mereka.

Persoalannya bukan pada agama. Tapi pada hukum alam. Sebuah Mekanisme Raksasa Kehidupan yang tidak memihak. Sepanjang prasyaratnya terpenuhi, maka roda mekanisme hukum alam akan bergerak, memenuhi hasilnya. Ibadah, do’a dan segala ritualitas serta imajinasi metafisis agama, hanya tools, hanya istilah, hanya kosa kata, hanya soal penafsiran akan kehidupan. Tapi intinya, segalanya ada relasi dan kontekstualisiasi realnya.

Jika saya ingin pintar menulis, maka kemampuan menyalurkan inspirasi kuncinya. Kemampuan mengolah kata intinya. Kemampuan mempromosikan tulisan corongnya. Bukan ayat-ayat Kitab Suci, bukan ritual ibadah dan do’a. Jika saya ingin mengusir penjajah, maka strategi politik dan militer kuncinya. Seribu tangis pada Tuhan tak kan berarti apa-apa, selain hanya hipnotisasi diri yang memperlemah dan membuat mental budak semakin membuat diri terpuruk di jurang psikologis yang dalam.

Jika saya ingin mencari dimana para Koruptor bersembunyi, maka membaca 2000 do’a tak kan pernah berhasil melacak dimana mereka menyembunyikan uang korupsi. Tapi dengan bantuan para intelijen, serta bantuan para hacker IT, maka dalam sekejap mereka akan bisa menemukannya, walaupun mereka tidak bertindak atas nama agama.

Jika saya ingin hidup tenang, bukan ritualitas agama yang membuat saya tenang. Tapi adalah pengendalian diri secara psikologis. Semacam kemampuan integritas pribadi yang kuat.

Jika saya ingin dicintai, menjadi idola dari orang yang saya cintai, bukan menjaga citra diri dengan bergaya alim yang akan membuatnya terjadi. Tapi adalah dengan pancaran cinta yang murni dalam diri saya. Hingga getaran hati, aura simpati yang memancar dalam diri sayalah yang akan menawan hati orang lain. Teknik menghiba-menghiba, dengan cara sentimental, dengan hipnotisasi diri melalui ritualitas agama, juga tak kan sanggup menembus simpati yang spontan dari orang lain. Karena soal cinta, adalah soal perjumpaan antara hati dan hati. Dan bahasa hati, tak mengenal label apa-apa. Sekali rasa berkata, maka saat itulah Sang hati menemukan cinta. Dan lain-lain ….

Dari mana semua sumbu sistem ini berasal? Dari mana lagi kalau bukan dari alam dan kehidupan. Dari mana lagi kalau bukan dari ROH Semesta, yang inklud tak terpisah dari alam. Memisahkannya sama artinya dengan menghancurkan alam itu sendiri. Alam, berdiri tegak pada sumbunya, pada mekanisme hukumnya yang solid tak terbantah.

Saya tak pernah berhasil membayangkan seandainya sistem hukum alam tak beraturan, kacau dan seenaknya. Hingga akhirnya saya sadar, pemahaman sayalah yang sering kacau terhadap alam. Saya tak pernah berhasil menikmati imajinasi, utopia dari dogmatisasi agama dalam kehidupan saya, bahwa dengan menjalankan ritualitas agama secara ketat seinci demi seinci, akan membuat saya hidup sukses dan tenang damai. Hingga akhirnya saya sadar, ternyata kuncinya pada integrasi diri. Pada manajemen psikologis yang terarah. Dan kemampuan adaptasi sosial yang lincah. Diluar dari itu?
Morfin psikologis.
Apapun istilahnya!


Arsip 12 Mei 2012

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.