16 November 2014

Pembela Islam, Umat Islam Malu-Maluin

Taopik Hidayat_16 November 2014

Menurut keyakinan yang ada dalam hati, saya yakin Bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam yang maha esa, dan Nabi besar Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Itu artinya, walau shalat saya masih bolong-bolong, walau puasa saya sering tidak tamat sebulan penuh, namun saya sudah bisa dikategorikan sebagai umat Islam dalam kolom Agama di KTP.

Yang jadi pertanyaan, kenapa Islam menjadi keyakinan saya sebagai tuntunan hidup, bukan Kristen, Hindu, Buddha atau yang lainya.?
Pertama karena saya hidup dari keluarga dan lingkungan yang mayoritas beragama Islam. Maka yang paling banyak saya pelajari tentang ilmu agama, adalah Agama Islam. Namun itu bukan yang paling utama, yang paling penting kenapa saya memilih agama Islam adalah dari apa yang saya pelajari. Misalnya, ajaran tentang Islam adalah rahmat bagi semesta alam, Islam adalah sebaik-baiknya umat, dsb.
Dan itu memang bukan cuma isapan jempol belaka, karena dalam syariat Islam Murni memang mengajarkan pada umatnya untuk bersikap seperti itu. Dan contoh kongkrit dari prilaku Islam sebenarnya adalah Nabi Muhammad.

Namun pasca wafatnya beliau, Ajaran Islam banyak terkontaminasi oleh hasil pemikiran manusia dari kesalah pahaman dan keserakahan. hingga akhirnya munculah pemikiran pemikiran radikal yang menyusup pada tubuh islam. Bahkan menyusup pula pada sikap Al Amin-nya Muhammad. Hingga tidak lagi aneh saat kita menemukan opini keburukan sikap muhamad berdasarkan dalil.

Saat masih ada Nabi, para sahabat mungkin bisa bertanya langsung bila ada hal hal yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Sementara untuk kita, saat ada satu ajaran yang menurut hati nurani tidak benar, pada siapa kita akan bertanya.? pada ulama, ustad..? sementara ilmu yang mereka kuasai, sama juga dengan yang kita ketahui, yaitu ajaran yang sudah terkontaminasi.

Secara umum sebutlah misalnya, di satu sisi Islam mengajarkan agar kita bersikap menjadi rahmat bagi alam. namun disisi lain ada juga ajaran yang harus memerangi kaum kafir. dan dari satu contoh diatas, lalu lahirlah tiga label jenis manusia dalam kehidupan nyata.

Pertama, dia yang sikapnya berguna bagi lingkungan dan bagi alamnya. Yaitu mereka yang menganggap bahwa agama itu sama, mereka bisa bersikap lentur pada sesama tanpa pernah memandang bulu. karena mereka beranggapan " tujuan kita sama, namun jalanya saja yang berbeda ". Mereka sering disebut sebagai golongan sekuler.
Kedua adalah pemeluk Islam fanatik. yaitu mereka yang hanya bersikap baik pada sesamanya saja, dan selalu memusuhi setidaknya memandang sinis pada kaum lainya. Penyebabnya karena mereka selalu merasa yang paling benar dan paling mulia. hingga dia bisa tega menilai kaum sekuler adalah sesat dan haram. walaupun mereka itu sama sama umat Nabi Muhammad.

Dan yang terakhir adalah golongan orang seperti saya, Orang yang masih dalam proses pencarian, orang yang tidak pernah memihak golongan manapun. manusia goblok yang tidak bisa berbuat apa apa, saat keyakinan yang saya anut dicaci dan dimaki oleh sikap anarkis segerombolan orang yang selalu mengatas namakan Allah.
Karena bagi kami agama itu tidak perlu dibela, tapi agamalah yang harus membela kami dari kesesatan, agar kami bisa selamat sampai tujuan.

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.