30 January 2015

Kisah Anak Kecil Penjaja Koran

Taopik Hidayat_30 January 2015

Pagi ini, wilayah Gedebage lumayan cerah. Membuat suasana hati yang sedang kacau karena muatan tidak dibongkar-bongkar sedikit terobati.(mencari duit seperti ini memang memuakan). Ditambah segelas teh hangat dari warung teh Tuti, otak kecilku mulai mampu berpikir secara normal. 
Maka mulailah cerita ini saya tulis.. 

Dari jauh saya lihat seorang anak kecil berpakaian putih merah agak dekil berjalan ke arah saya, dengan mendekap setumpuk koran di dada. 
Saya tertarik dan terus memperhatikanya. 
Seseorang memanggil dia. anak kecil tersebut lalu menghampiri panggilan bapak satpam gudang sebelah. Lalu padanya anak tersebut  memberi satu eksemplar koran setelah memasukan lembaran uang ke saku celananya. 
Anak itu ternyata penjual koran. 

Saya makin tertarik, bukan pada koran yang ia jual, tapi pada diri anak ini.
Saya panggil dia,
Lalu tergopoh-gopoh anak ini segera menghampiri saya..
" Ada Tribun jang.? "
" ada pak. "
" Berapa.? "
"  2500 pak. "

Lalu saya beri dia uang 5000.
" ambil saja kembalianya jang "
" hatur nuhun pak.. "
"  iya, naha teu sakola jang.? "
" masuk siang pak, jam 9. beres jualan langsung sakola. "
" o.. syukurlah kalau begitu "

Dia terlihat senang, setelah memasukan uang ke saku celananya,lalu berlalu dari hadapan saya.

Sepanjang dia berjalan saya terus memandanginya.
Karena saya merasa dia sudah memberi sebuah pelajaran yang amat berharga mengenai hidup.
Kesadaran saya seperti di tampar, Betapa kerasnya hidup ini untuk anak itu, tapi perjuangan dan semangatnya lebih keras lagi.

Sementara saya,  selalu merutuk, memaki, dan putus asa hanya karena hasil pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan.
Padahal saya tidak perlu berjuang keras seperti anak itu tuk hidup.

" NUHUN JANG.. "

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.