11 February 2015

Cara Tuhan Meluapkan Emosi-Nya Pada Warga Jakarta

Taohids Channel_11 February 2015

Saat ini sedang ramai di beritakan baik oleh media cetak maupun media elektronik tentang Banjir Jakarta. Penyebabnya karena beberapa hari belakangan ini, daerah Jakarta dan sekitarnya tidak henti-hentinya diguyur hujan. Nyaris tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang, saat datang musim penghujan daerah ini selalu saja terkena banjir.

Pertanyaanya sekarang, kenapa bisa begitu?

Menurut saya, ini bukan masalah siapa pemimpin dan bagaimana cara kerjanya, karena sehebat apapun cara Gubernur DKI meminimalisir terjadinya banjir, Toh pada kenyataanya air hujan masih tetap saja betah menginap di rumah warga Jakarta.

Jadi penyebab kenapa Jakarta selalu kebanjiran saat musim penghujan, ini jelas karena kehendak Tuhan. Siapapun tidak akan pernah bisa menolak kehendak-Nya, kalau harus banjir ya banjir. mau kiriman dari Bogor atau karena warganya tidak memiliki kesadaran, Tuhan tidak mau peduli.

Intinya penyebab utama banjir di Jakarta atau di daerah manapun, itu semua murni karena emosi Tuhan. Tuhan sedang marah, maka Dia menghukum warga jakarta dengan banjir. bila Tuhan sedang galau, maka Dia memberi cobaan pada warga Jakarta dengan banjir, Dan saat Tuhan sedang merasa senang, maka dia memberkati warga Jakarta dengan banjir.

Oleh sebab itu saya mengajak pada warga Jakarta, mari kita lanjutkan membuang sampah sembaranganya. biarkan dia menyumbati saluran saluran air, juga biarkan dia membuat dangkal saluran saluran air.
Dan untuk Pemkot DKI, hentikan semua pencitraan diri anda, hapus semua mimpi ingin menghilangkan banjir,
Percuma..
Alih alih bisa terwujud, anda hanya akan mendapat rasa capek dan pemborosan uang rakyat.


Pengamat Banjir Dua Alam


Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

2 Comments
This comment has been removed by a blog administrator. - Hapus
avatar

Bohong

Reply

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.