21 February 2015

Pendapat Kurang Ajar Saya Tentang Allah Muslim

Momos Fobetor_21 February 2015

Banyak sekali saya temui post sekumpulan umat muslim beriman yang isinya kurang lebih mengalogikakan umat lain yang menyembah patung dan manusia. Padahal apapun nama dan bentuk sesuatu yang di sembah, itu adalah ciptaan mereka sendiri.

Kalau saja onta, kambing dan domba mampu berpikir, memiliki tangan, dan pintar menggambar seperti manusia, maka onta akan menggambarkan tuhan seperti onta. Begitu juga dengan domba, dia akan menggambarkan tuhan seperti domba. artinya mereka akan menggambarkan tuhan seperti yang terdapat pada gambaran mereka sendiri. Oleh karena itu tidak heran bila orang afrika menggambarkan tuhan berkulit hitam. Begitu juga dengan orang China, mereka menggambarkan tuhan dengan mata yang sipit.

Lalu bagaimana dengan Allah..?
Setali tiga uang dengan yg sudah saya uraikan diatas, Allah juga hasil gambaran rata rata umat muslim, oleh karena itu mereka bahkan bisa menggambarkan Allah sampai begitu mendetil. Lalu menulisnya dalam buku sampai satu perpustakaan penuh. Bedanya umat muslim memediasikan gambaranya dalam pikiran. Bukan pada media lukis, patung atau manusia.

Sebab itu mereka selalu merasa apa yang disembahnya sebagai sesuatu yang masuk akal, masuk logika.
Padahal dalam ilmu kallamullah diajarkan bahwa "Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku" artinya eksistensi yang disembah rata rata umat muslim itu memang DISANGKA, bukan diketahui dari sisi logika. Laitsa kamislihi syai'un, tidak ada yang serupa, tidak ada yang sama. Kasarnya Tuhan tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.
Intinya Tuhan itu memang tidak bisa di logikakan, baik logika alamiah apalagi logika ilmiah.

Al Junayd pernah berkata " warna air adalah warna yang ditempatinya ". yang berarti, Dia yang absolute akan memperkenankan pada setiap umat untuk mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan kepercayaan. Jadi apa uyang disembah rata rata umat muslim itu adalah ciptaan mereka sendiri, dia adalah menurut persepsi mereka sendiri. Maka saat mereka memujinya, itu sama dengan memuji diri sendiri. Dan saat ada umat lain mengejeknya, itu sama dengan mengejek dirinya sendiri.
Efeknya tentu saja mereka akan selalu mengejek balik kepercayaan orang lain.

Cukup..!

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.