28 February 2018

Pendapat Saya Tentang Ustadz Somad

Momos Fobetor_28 February 2018

Menurut saya Ustadz Abdul Somad itu sama saja dengan pendekar-pendekar Islam lainya, tidak ada yang berbeda. Kalaupun harus dibuat perbedaan, bedanya beliau ini adalah pendatang baru, dengan penampilan, gaya dan bahasa yang baru pula dalam dunia perceramahan. Itu yang membuat beliau jadi terkenal. Sedangkan pada materi ceramah yang disampaikan, tidak ada yang berbeda. Semua materi ceramah pendekar-pendekar Islam tidak pernah berubah dari 14 abad yang lalu sampai sekarang.

 Lalu apa yang membuat beliau menjadi viral akhir-akhir ini.?
Saya mengenal beliau tidak secara nyata, saya tahu Ustadz Somad melalui ceramahnya di sosial media Youtube. Ditambahi dengan bumbu-bumbu kontroversi maka terkenal-lah dia. Baru setelah terkenal, mulai banyak majelis-majelis yang mengundangnya untuk berceramah secara live.
Itulah sekilas cerita tentang sepak terjang dan perkenalan saya dengan Ustadz Abdul Somad. Namun sebelum artikel ini saya sudahi, saya ingin menanggapi tentang materi ceramah beliau yang banyak sekali mengharamkan sesuatu.

Awal ketertarikan saya mendengar nama Ustadz Somad adalah saat ramai tentang "ejekanya" terhadap Rina Nose dan polemik LGBT dengan Jerremy Teti. Walau sebetulnya saya tidak pernah tertarik dengan ceramah beliau, namun saat beranda akun sosial media saya penuh dengan video ceramahnya yang di share teman, saya jadi bertanya-tanya, memangnya siapa sih dia.? Begitu gampangnya menghalalkan atau mengharamkan sesuatu.? Mulai dari catur haram, menyukai Lee Min Ho haram, merayakan hari ibu haram, suap boleh, main game Mobile Legend dosa dan lain sebagainya. Padahal dalil yang beliau jadikan referensi hanyalah Hadist Tasyabbuh.
Apa dia ini merasa sudah menjadi Tuhan.?

Ini bukanlah barang baru, seperti yang pada awal tulisan ini saya katakan, tidak ada bedanya dengan yang lain. Bahkan yang ini bisa saya sebut agak nyeleneh provokatif dan sedikit kontroversi. Konsekwensinyapun jelas, ditolak untuk berceramah di Hongkong, di Bali, bahkan gagal berceramah saat semua siap di gelar.

Jadi saran saya untuk ke depanya, ceramahlah yang baik baik saja ya tadz, yang memakai nilai kemanusiaan. karena sebanyak apapun ilmu agama, tanpa nilai kemanusiaan semuanya menjadi sia-sia bahkan bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Mau cari apa lagi, toh populeritas sudah didapat, betul tidak pak Ustadz.?

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang , :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.