20 November 2019

Cara Mudah Memahami Al Qur'an

Taohids_20 November 2019

Bahasa Indonesia itu masih terlalu muda, di adu sama Bahasa Sunda pun sudah babak belur. Apa lagi kalau di adu sama bahasa Jawa atau bahasa daerah lainya. Masih banyak bahasa daerah yang tidak bisa di translate ke bahasa Indonesia karena kalah tua.
Coba apa bahasa Indonesianya ANGKARIBUNG..!?
Atawa ROROMBEHEUN..!?
Gak bakalan nemu..

Belum lagi dari padanan katanya yang begitu komplit. Contohnya kata "TIDUR", dalam bahasa sunda ada banyak kata persamaan untuk itu, ada kulem, molor, he'es, sare, bobo, kokojoran, mondok, dll.
Bahasa Arab malah lebih tua lagi. Saya memang tidak pernah mempelajari bahasa Arab formil, atau bahasa yang digunakan orang Arab sehari-hari. Namun bahasa Qur'an, menurut orang Arab sendiri lebih indah dan lebih terperinci.

Jadi menurut saya, bahasa Qur'an bukan "Bahasa Nasionalnya" orang Arab saat itu. Apa lagi jika kita baca buku sejarah Arab pada masa kehidupan Nabi Muhammad yang bersuku-suku, tentu bahasa suku Nabi Muhammad-lah yang digunakan sebagai bahasa Qur'an. Karena saya yakin Allah menurunkan wahyuNya tentu dalam bahasa Nabi Muhammad. Tidak masuk akal saja jika Nabi Muhammad orang jawa, lalu Allah menurunkan wahyu menggunakan bahasa Papua misalnya.

Maka dari uraian di atas, kita tahu betapa njomplangnya bahasa Indonesia jika di adu sama bahasa Qur'an. Dan itu artinya saat kita menafsirkan Qur'an, tidak cukup hanya ber-referensi tafsir Departemen Agama saja, butuh tafsir-tafsir dalam bahasa yang setidaknya mendekati usia bahasa Arab agar makna yang terkandung didalamnya bisa dipahami secara tepat, atau sekurang-kurangnya mendekati.

Saya ambil contoh kata basmallah saja,
Dalam tafsir depag berbahasa indonesia artinya " Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang". Saya malah jadi bingung, apa perbedaan antara pengasih dan penyayang.!?
Sementara dalam tafsir sunda berarti "Kalayan nyebat asma Allah, nu maparinan nikmat alit sareng nikmat ageung ". Sebagai orang sunda, makna ini tentu lebih masuk akal dan rasa ketimbang tafsir depag berbahasa Indonesia.

Intinya, Menggunakan tafsir depag berbahasa indonesia itu bagus. Namun akan lebih bagus lagi jika menggunakan tafsir bahasa ibu untuk menafsirkan Qur'an. Kalau tidak, tentu akan sangat berbahaya. Ini terbukti dengan banyaknya versi pemahaman Islam.

Hanya Allah yang Maha Tahu.

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang , , :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.