11 October 2020

Saat Nalar Mati Oleh Omnibus Law

Taohids_11 October 2020

Saat Nalar Mati Oleh Omnibus Law
_____________

Berkumpulnya dosen, guru besar, dan sejenisnya dalam sebuah wadah, itu bukan sebuah ukuran bahwa pemikiran wadah itu sudah benar. Konteksnya sangat berbeda, dosen atau guru besar itu hanya menunjukan bahwa tingkat pendidikan formal mereka tinggi, bukan menunjukan sebuah kebenaran.

Karena faktanya banyak juga dosen, akademisi, dan kaum intelektual lainnya yang mendukung Omnibus Law.
Jadi ini hanya masalah penafsiran.
Orang bisa menafsirkan apapun sesuai daya tangkap dan nalarnya, bukan status atau pekerjaanya. Apa lagi jika tafsir yang dibuatnya sudah terkontaminasi oleh kepentingan, segala daya mati seketika.

Tidak percaya.!?
Tidak sedikit dosen dan guru besar yang terpapar radikalisme di negeri ini, itu hasil dari penafsiranya tentang ayat jihad. Dan itu mereka anggap benar walau menurut yang lainya salah.

Tapi omnibus law itu rancangan manusia, bukan rancangan Tuhan seperti ayat jihad.
Anda bisa menanyakan langsung apa maksud yang tertulis dalam omnibus law. Karena hanya perancang, dan pembuatnya yang tahu.

Tinggal masalahnya, mau menerima penjelasan atau tidak. Itu kembali pada pribadi masing masing. Bukan pribadi dosen atau guru besar. Kecuali jika nalar anda memang benar benar sudah mati dan tak mampu beralasan.
Itu berarti judul tulisan ini sudah tepat.

Roberto Taohids

Bagikan Artikel Ke Sosial Media


Artikel Terkait lainya tentang , :

0 Comments

Silahkan berkomentar sesuai tema posting di atas. Komentar jorok, spam, atau tidak relevan, akan kami hapus secara permanen.